Jumat, 30 Juli 2010

Bagaimanakah Menjadi Guru Privat yang Baik

Jadi guru tidak mudah. Apalagi jadi guru privat. Memang kalau dilihat dari jumlah murid lebih sedikit dibanding tempat kursus atau sekolah. Tapi, tanggung jawabnya sama saja. Bahkan bisa jadi lebih besar. Mengapa? Karena ketika kita menjadi guru privat, kita begitu dekat dengan murid. Tidak hanya itu, kita juga jadi dekat dengan orang tuanya, orang-orang yang ada di rumahnya. Memang, para orang tua biasanya tidak di rumah, tetapi kakak atau adik si murid, pembantunya, omnya dan mungkin tantenya juga ada di rumah. Mereka ‘mengawasi’ kita, cara mengajar, penampilan dan bagaimana kita pedekate dengan si murid.

Jadi, performance mengajar kita sangat dipertaruhkan. Belum lagi jadi guru privat adalah bentuk dari pelayanan kepada pelanggan. Berarti sekali saja kita tidak memuaskan, misal:datang terlambat, tidak menguasai materi, cara mengajar tidak enak, pedekate kurang, tidak komunikasi, tidak memberikan laporan kemajuan siswa secara berkala, maka habislah riwayat kita.

Oleh karena itu, sebelum hal-hal buruk menimpa kita, lebih baik kita mengkaji ulang apa yang dimaksud dengan guru privat ideal. Sebelum kita menyesal dan merugi karena tidak mendapat uang tambahan yang menggiurkan setiap bulannya.
Lalu, apa saja kriteria guru privat ideal itu?

Berikut pengalaman seorang guru privat, sebut saja Brait, yang sudah menjadi guru privat selama 15 tahun. Wow! Menurut wanita yang sudah berumur 30 tahun ini, menjadi guru privat sama dengan menjadi sahabat sekaligus bagian dari anggota keluarga si murid. Mengapa? Karena kita datang ke rumahnya, mengajar di kamar murid atau kadang di ruang tamu atau makan, yang bisa dibilang tempat itu privasi sekali. Biasanya yang datang berkunjung adalah seorang tamu dan biasanya mereka duduk di ruang tamu dan tidak diperkenankan ke ruang lain seperti guru privat.

Tapi sebagai guru privat, kita berada di tempat yang sangat privasi misalnya kamar murid. Kita sama saja seperti keluarga mereka yang sedang berkunjung. Kita pun dipercaya penuh. Meski, ada sebagian keluarga yang sangat mengawasi si guru privat. Tak hanya itu, sebagai guru privat, kita dianggap mampu meningkatkan nilai si anak. Lebih jauhnya, dianggap bisa dan diharapkan mampu memotivasi si anak.

Tak jarang, murid privat lebih suka dengan cara guru privatnya di rumah dalam menerangkan soal atau pelajaran ketimbang gurunya di sekolah. Betapa tidak, jika privat, maka perhatian pun tercurah pada si murid seorang. Permasalahannya dalam sebuah materi atau pelajaran segera teratasi. Persoalannya adalah, bisakah si guru ngeklik dengan si murid dan sebaliknya?

Belajar berdua, maka kepandaian interpersonal antara guru terhadap murid diperlukan. Jika murid suka, maka pembelajaran akan oke. Tapi sebaliknya, jika tidak maka buyarlah semua yang diharapkan pada proses pembelajaran ini.

Jadi intinya, si guru mesti pintar-pintar membawa diri, baik terhadap murid juga dengan personil rumah lainnya. Selain itu, datang tepat waktu juga masih menjadi hal yang sangat sering dilanggar di negeri kita ini. Tidak cukup sampai disitu, penguasaan materi dan cara penyampaian juga benar-benar menjadi ujung tombak dari profesi gur privat.

Tidak lucu kan, kalau kita ditodong dengan materi-materi yang kita kewalahan menjawab karena tidak prepare. Jadi, jangan asal ambil kesempatan mengajar privat. Tanya lagi pada diri, anda sanggup tidak mengajar materi tersebut.

Anda menguasai materi itu atau tidak. Hal ini perlu karena kadang-kadang sebagai guru privat, materi yang ditanyakan tidak melulu hal yang sedang dipelajari. Kadang murid bertanya materi lalu, materi yang akan datang, bahkan materi-materi di luar pelajaran yang seharusnya. Nah, kalau sudah begini, benar kan..jadi guru mesti pintar selain yang utama mereka harus bisa digugu dan ditiru.

Selain itu, menurut Brait, menjadi guru privat berarti juga menjadi motivator bagi si murid termasuk dalam mencapai kemajuan murid yang diajar. Dengan apa? Melalui progress report yang kita serahkan pada orang tua murid. Agar si orang tua sejauh mana perkembangan kemajuan anaknya. Memang tidak selamanya setelah privat lalu laksana orang main sulap, maka si anak akan menjadi pintar atau bergerak ke arah yang dimaksud. Tapi setidaknya, ada perkembangan. Kalaupun ada kekurangan bisa dikaji dan dianalisa bersama antar orang tua dan guru privat. Jadi, tidak hanya menyampaikan materi dan berkomunikasi dengan anak, tapi si guru juga mesti bisa menjelaskan perkembangan anak didiknya dan berkomunikasi dengan orang tua murid.

Inilah yang menyebabkan Brait, mampu bertahan lama jika mengajar privat. Brait tidak lagi mengajar muridnya karena muridnya memang pindah ke luar negeri karena harus melanjutkan kuliah. Brait tidak pernah mengajar muridnya dalam kurun waktu yang sebentar. Tapi bertahun-tahun karena si murid dan orang tua bahkan para pembantu di rumah tersebut menyukainya.

Lalu, bagaimana dengan anda? Sudahkah anda seperti Brait? Sst…jangan khawatir, ini bukan mematahkan semangat anda sebagai guru privat. Tapi, ada baiknya kita sama-sama instropeksi diri dan lebih profesional. Bangga kan, kalau kita jadi guru privat yang oke dan dicintai murid. Seperti Brait bilang, “Serasa gimana gitu rasanya, ketika datang disambut murid dengan antusias dan menerima ucapan, “I love you miss, because you teach me lots of things. You know, you are smart and beautiful!”
Nah..nah..jangan mau kalah sama Brait. Ayo..jadilah guru privat ideal.

sumber : http://www.indoocean.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar