Sabtu, 31 Juli 2010

Hapus Kesenjangan Pendidikan, Konkretkan Program Merger SD

Tahun Ini Fokus Benahi Gedung Sekolah

Dua tahun lalu pemkot bermimpi menghilangkan kesenjangan pendidikan di Surabaya. Istilah sekolah favorit dan nonfavorit akan dihapus. Mimpi itu kini mendekati kenyataan setelah pemkot mencanangkan program merger sekolah dasar (SD). Tahun ini program yang sudah berjalan tersebut didukung dengan kesiapan bangunan sekolah.

---

MENYANDANG status sebagai siswa SDN Kaliasin I selama ini dianggap lebih prestisius dibanding SDN Kaliasin II. Padahal, kedua sekolah itu berada dalam satu kompleks. Kesan itu timbul, salah satunya, karena jumlah siswa yang lebih banyak di SDN Kaliasin I. Selain itu, fasilitas sekolah di sana lebih lengkap.

Begitulah kondisi yang selama ini sering menimpa kebanyakan sekolah yang berada dalam satu lingkungaan (kompleks). Ketimpangan dari sisi fasilitas dan jumlah murid kerap terjadi. Itulah persoalan klasik yang tak lama lagi bakal diselesaikan pemkot melalui merger sekolah.

Rencananya, SDN Kaliasin I dan II dijadikan satu dengan nama SD Kaliasin. Kedua sekolah itu pun digelontor dana Rp 5,1 miliar untuk rehab gedung dan penambahan fasilitas. Tidak hanya SDN Kaliasin, beberapa SDN yang berada dalam satu kompleks akan diperlakukan sama.

Sesuai SK Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/269/436.1.2/2009, setidaknya ada 80 SDN yang akan dimerger menjadi 33 sekolah. Untuk mendukung pengabungan itu, sejak 2009 pemkot mengalokasikan anggaran rehab fisik sekolah. Tahun ini rehab masih berjalan dan sejumlah anggaran pun ditambahkan hingga mencapai Rp 34,6 miliar. Anggaran sebesar itu dialokasikan untuk mewujudkan gedung dan fasilitas yang representatif.

Standar gedung dan fasilitas sekolah yang akan dimerger disiapkan sejak kepala Bappeko dijabat Tri Rismaharini. Standar tersebut, antara lain, bangunan SD yang memiliki laboratorium IPA, IPS, bahasa, komputer, matematika, dan wirausaha. Selain itu, sekolah akan dilengkapi fasilitas olahraga indoor, taman bermain, dan ruang terbuka hijau. Pemkot memasok tenaga pengelola pada fasilitas-fasilitas tersebut. Mulai satpam, cleaning service, hingga asisten laboratorium.

Kabid Fisik Sarana dan Prasarana Bappeko Erna Purnawati mengatakan, program merger tersebut tahun ini terus dilanjutkan. Dari 33 sekolah hasil merger, setidaknya ada 19 sekolah yang rehab fisiknya sudah dikerjakan, baik menggunakan APBD 2009 maupun 2010. Menurut Erna, pembangunan fisik sekolah merger yang didahulukan itu karena beberapa faktor. Yakni, kondisi gedung yang rusak, siswa yang overload (sehingga membutuhkan kelas baru), dan status tanahnya tidak bermasalah. ''Jadi, yang didahulukan itu berdasarkan kondisi dari pantauan di lapangan, bukan atas siapa yang mengusulkan,'' ujarnya. Erna melanjutkan, jumlah SD yang dimerger tersebut mungkin terus bertambah. Sebab, masih banyak sekolah yang berada dalam satu kompleks.

Sesuai data pemkot, jumlah SD di Surabaya mencapai 576 sekolah. Namun, jika dihitung berdasarkan lokasi sekolah, jumlahnya ada 312 sekolah. Ini berarti banyak SD di Surabaya yang terdapat dalam satu lokasi. ''Dengan penggabungan sekolah itu diharapkan kesenjangan pendidikan di Surabaya tidak terjadi lagi,'' paparnya. (gun/c2/oni)

sumber:detik.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar